Jumlah tenaga kerja sektor pertanian
turun 280.000 orang (0,68%) selam periode
Februari 2013-Februari 2014. Jumlahnya susut
dari 41,11 juta menjadi 40,83 juta orang.
Hal ini disebabkan oleh musim panen yang
bergeser dari awal tahun sehingga para petani
kehilangan lapangan pekerjaan. Padahal
berdasarkan tahun-tahun sebelumnya, musim
panen untuk lahan padi bisa menampung banyak
tenaga kerja.
"Kalau di Februari itu kuncinya, itu kan musim
panen. Tahun ini musim panen kan geser. Tanam
Januari kan biasanya dari Desember. Panen ini
mungkin Maret April Mei. Ketika kita survei
Februari, tidak ada panen. Panen ada tapi sangat
sedikit," kata Deputi Bidang Statistik Sosial
Badan Pusat Statistik (BPS) Wynandin Imawan di
kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014)
Para petani kemudian mencari lapangan pekerja
sektor informal lainnya antaralain sektor industri
atau jasa. Wynandin menilai dengan petani
sebagai kelas berpendapatan rendah, peralihan
profesi menjadi sangat cepat.
"Berarti ini geser ke non pertanian. Kenapa?
Karena memang tidak ada pekerjaan. Pindah dia
kuli panggul atu PKL (Pedagang Kaki Lima),"
tegasnya.
Selain itu mobilitas profesi petani juga
dipengaruhi oleh keterampilan yang sedikit dan
pendidikan yang rendah. Secara total yang
meliputi lulusan Sekolah Menengah Pertama
(SMP) ke bawah yang mencapai 76,4 juta orang
(64,63%).
"Ini mobilitas saja dari orang yang tidak punya
keterampilan dan pendidikan rendah," sebutnya.
Jumlah penduduk yang bekerja adalah 118,2 juta
orang. Di luar pertanian, orang bekerja di industri
pengolahan, yang meningkat dari 15 juta orang
menjadi 15,4 juta orang. Sektor konstruksi pun
demikian, dari 7 juta orang menjadi 7,21 juta
orang.
Di sektor perdagangan juga meningkat dari 25,36
juta orang menjadi 25,81 juta orang. Kemudian di
sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi
juga meningkat dari 5,3 juta orang menjadi 5,33
juta orang.


Posting Komentar